Selasa, Februari 07, 2012

Pawang Idola dan Bajingan

Februari 7, 2012

Suatu hari, seseorang dengan cambuk datang kepadaku. Sado, ya, hobinya menertawakan orang. Apalagi tidak lagi bernyawa. Tidak perlu adimanusia untuk bisa mengira- tidak, pikiranku datang darinya, ia berikan sensasi dan imaji horor itu lewat udara, cahaya, dan suara. Yang mati, kurasa dilecut sampai sel darah putihnya memerah-atau menghitam- darah berdarah. Yang masih beruntung, tak kurang besar bengkaknya.

Kali ini ia panaskan tubuhku, dengan endapan setiap yang kusebut bajingan- preman, koruptor, munafik, konspirator, sampah, parasit- yang pernah mencabut nyawa banyak orang di belahan dunia manapun. Ia tarik ujung rambutku, satu per satu, ia dekatkan dengan agen gerah-gigil- si bajingan- yang begitu asam sampai batu ginjalku melapuk.

Sulit ditebak bagaimana ia akan menelantarkan kita masuk ke dunianya, sebuah bilik cinta yang berisi ranjang. "Silahkan berbaring", katanya, sambil menyiapkan cambuk berduri, pelat besi bergerigi, dan cakar metal tujuh rupa. Waktu terasa begitu lambat saat rusuk-rusuk nyeri ditempa, kulit-kulit digesek lepuh, dan mata yang terus-terusan dijebak melek.

Mati rasanya seperti mendapatkan hati gadis impianmu di masa SMA. Siapa yang tahan dengan cobaan ini, dan Buddha bisa menahan berkali-kali lipat yang seperti ini? Tidak bisa kubayangkan, ingin sekali kuhancurkan dinding merah pembiak kesengsaraan ini.

Layak preman, orang kampung tidak bermoral, ia main pukul. Jika kita menurut, niscaya ia ringankan, mungkin ia ganti alatnya dengan jarum jahit. Kalau berontak, masih dengan jarum jahit, tapi ia tidak akan tusuk lepas saja. Ia akan menyatukanmu dengan ranjang. Lalu ia tidur di atasmu, tertawa riang seperti Amerika saat mereka menghadiahkan orang-orang sipit bom nuklir dan hujan peluru mortir. Si pemberi hadiah menghadiahkan diri mereka sendiri dengan menghadiahkan orang lain hutang, tapi sebenarnya ia ambil kembali hadiahnya, hutangnya tetap. Ia katakan juga, "Tunduk!" Pawang, ya kau?

Dalam keadaan kepala dikompres helm yang semakin menyusut, sakit berhari-hari atau jenuh menyadarkanku akan keberadaan lain. Ia kusebut pawang idola, sementara karena ia adalah idola bagi massa mainstream. Tidak jarang juga sih, aku datang kepadanya untuk melihat atraksinya.

Terbiasa menjadi bintang, diam-diam ia berkeliaran, tanpa sepengetahuan orang ia tunjukkan kepiawaiannya. Pawang cerdas yang tahu bagaimana caranya menyenangkan orang. Sayangnya kali ini ia hilang, atau aku tidak bisa mencarinya, atau aku mencarinya tapi tidak kunjung bertemu.

Aku, yang masih menjadi hewan sirkus dan melompat saat diperintah, tidak menemukannya di saat aku membutuhkannya. Aku ingin diperintah olehnya, diambil alih dari pawang jahanam!

Dengannya aku melompat jauh ke masa depan, di mana rasa sakit tidak sah, tidak saat aku melompat, karena aku sedang melompat, bukan sedang sakit. Untuk saat seperti inilah, manusia tidak lagi merasakan masa sekarang seperti biasanya, karena masa lalu sudah berlalu dan masa depan adalah ruang kedatangan dari lorong yang orang tidak tahu apa, sebuah nihil waktu, meski pada dasarnya waktu tidak pernah benar kita pegang.

Raib, pawang idola ini, dan bagiku yang sudah direkat, dipotong, dan dijahit akan mengalami rasa sakit yang lebih sakit dari sakit. Tidak menemukan pawang idola membuatku terus saja kembali pada sadistis pawang bajingan. Sakit, mencari, tidak ada, dan kembali sakit, terus seperti itu.

Seperti masuk jurang, tapi tanpa ujung. Pada awalnya, aku merasa takut mati karena akan jatuh dan otakku segera berceceran menghirup udara segar untuk sekian lamanya. Namun, menyadari ujung dari jurang adalah titik awal dari jatuh bebas kembali, untuk kemudian takut lagi, bersamaan itu ada perasaan tidak biasa yang sering kulihat saat berjalan di trotoar dan jembatan Jakarta.

Kita interpretasi putus asa. Tapi sebenarnya nihil, hampa, sebuah pintu setelahnya tanpa jalan keluar. Mau kemana jika bertemu itu, sampai ke situ? Setelah itu adalah itu, tidak bisa ke mana-mana lagi, dan itu pun bukan apa-apa. Bukan sesuatu. Itu bukan sesuatu.

Karena itulah aku sekarang belajar menghindari dan membiarkan secara alami keduanya, si bajingan dan idola. Tidak usah dicari atau berhenti saja mencari, kalau memang tidak ada. Spontan berontak saja saat bajingan menumbuhkan nanah padamu, dan menurut jinak kalau butuh nafas sejenak. Lama kelamaan, hidup ini bagiku tak lagi duniawi, tapi juga tak lagi seperti biasanya. Terlalu turut pada idola pun akan melenakanmu, lemah seperti kukang, dan tunduk saja hanya akan menjadi kerbau.

Rasa sakit dan itu yang merupakan bukan sesuatu, tidak akan lagi kurasakan jika kedua pawang kujadikan atraksi sampingan, pemain cadangan, figuran. Aku, manusia, adalah tokoh utama yang sanggup menanggung beban seperti unta, namun berwujud singa liar, dan berhati seperti anak kecil.

Rabu, Oktober 05, 2011

bangkit dari kebodohan

sudah saatnya. mari torehkan bekas dengan taring yang selama ini dikungkung stigma. kaburnya makna karena kaburnya kata bukanlah cara yang jujur, melainkan konform pada popularitas. mari katakan kebenaran meski pahit. kami bukan anjing pungutan. kami bukan tanpa taring. realita kami tidak berjejak trauma meski sarat banal. akan kami tunjukkan taring kami yang mampu menusuk dalamnya samudra kehidupan.

Kamis, September 29, 2011

Review Musik

RADIOHEAD - KID A (2000)



tracklist

1. "Everything in Its Right Place" – 4:11
2. "Kid A" – 4:44
3. "The National Anthem" – 5:51
4. "How to Disappear Completely" – 5:56
5. "Treefingers" – 3:42
6. "Optimistic" – 5:15
7. "In Limbo" – 3:31
8. "Idioteque" – 5:09
9. "Morning Bell" – 4:35
10. "Motion Picture Soundtrack" – 6:59

Kali ini saya mau me-review album Kid A dari Radiohead. Kenapa album ini? Jujur saja, kalau saya depresi, biasanya saya makin depresi karena mendengar album ini. Tapi setelahnya mood saya membaik karena lagu terakhir yang seakan memberikan cahaya yang optimis, bukan penuh harap, untuk kembali baik-baik saja. Sebelum masuk ke review, anda semua tentu tahu Radiohead bukan?

Radiohead adalah band dari Abingdon, England, dan sudah aktif menjadi band sejak 1985. Thom Yorke adalah vokalisnya, Ed O'Brien dan Jonny Greenwood adalah gitarisnya, Colin Greenwood memainkan gitar bas, dan Phil Selway di bagian drum. Radiohead memainkan musik di genre alternatif. Jujur lagi, saya orang yang baru benar-benar membuka lanskap pikiran saya dengan menerima musik semacam ini. Semacam apa? Bukankah Radiohead terkenal dengan single "Creep"? Lalu, kenapa baru menerima, semua orang sih juga sudah paham lagu ini. Ariel Peterpan pun tahu.

Jadi, jika anda penggemar Radiohead, sudah pasti tahu bagaimana musik-musik Radiohead sepanjang rilis albumnya. Lagu "Creep" sepertinya memang dikenal dibanyak generasi, saya menemukannya di laptop ayah saya, dan saya pun, yang saat lagu itu keluar masih menyusu ibu, pernah mendengar di suatu tempat, mungkin di chart MTV atau permintaaan request di stasiun radio saat duduk di sekolah dasar. Agan-agan tahu betapa depresinya lirik chorus lagu itu, menghina diri sendiri atas inkompetensi untuk bersama orang lain, dan harus menjadi sempurna di mana sangat sulit. Dan lagu itu sangat populer, berhasil membawa Radiohead ke permukaan yang lebih tinggi sejak saat itu. Radiohead lalu merilis album keduanya, The Bends, dan sedikit banyak mengubah gaya musiknya, di mana banyak sekali iringan gitar akustik dan falsetto Thom Yorke yang masih sangat terasa pengaruhnya pada penyanyi-penyanyi pop 2000-an ke atas dengan gaya yang sama. Album ketiga, OK Computer, mengubah segalanya pada permusikan indie maupun mainstream. Struktur lagu di album itu kebanyakan tidak lagi seperti mainstream, dan lebih fokus pada aspek dramatis, klimaks yang diciptakan dari atmosfir-atmosfir yang dibentuk melalui permainan yang, katakanlah lebih depresif daripada sebelumnya. Thom Yorke tidak terdengar begitu senang saat menyanyi, meski gitar listrik kembali berperan, tapi mulai ditambah elemen-elemen yang nantinya akan jadi eksplorasi dari Radiohead. Jadi, kembali ke pertanyaannya, seperti apakah musik Radiohead pada Kid A?

Tidak akan percaya bahwa ini band yang sama, tetapi sekaligus dapat dimaklumi karena bagaimanapun juga, seperti inilah Radiohead. Elemen elektronik yang pada OK Computer kurang lebih sebagai pemanis, sekarang begitu dominan di album ini. "Everything In Its Right Place" memulai album dengan iringan (mungkin) synthesizer, komputer dalam suara seperti piano, dan langsung distorsi suara olahan programming mengisi lagu. Lagu ini mewakili apa yang akan kita dengar selanjutnya, olahan-olahan elektronik yang pada umumnya sangat mustahil ini langkah yang diambil oleh sebuah band rock.

Elektronik macam apa? Ada yang membuat macam lagu disko koplo, yang murahan, yang bass-nya berlebihan dan begitu banyak melodi cempreng yang sepertinya dipakai di semua musik remix. Kalau anda sering naik angkot yang menyetel lagu remix, tentulah mengerti. Yang lain seperti goodnight electric, yang mengembangkan beat cepat, plus nuansa new wave dan melodi yang terdengar playful. Yang lain lagi, mengembangkan lagu yang memang untuk keperluan klub malam, house music, bass kencang, dan penuh suara yang dijamin untuk membuat melek sampai pagi, meski kadang terlalu ribut dan kebanyakan suara yang tidak perlu. Nah, Radiohead, bermain pada fondasi beat-beat yang sederhana, tapi dengan melodi yang tidak terlalu bermain melodi, melainkan penekanan pada ritme yang teratur untuk beberapa bar sebelum memvariasikannya dengan bentuk melodi yang lain, tetapi tetap sebagai ritme saja. Lagu-lagu lalu ditambah suara-suara programming yang lain, baik itu suara padang salju, desir angin, ruang lab teknologi, reruntuhan, atmosfir sebuah horizon yang mencekam, distorsi vokal Thom Yorke pada liriknya, atau bahkan biola dan brass. Tidak percaya? Yah, saya juga tidak terlalu optimis apakah perpaduan yang cocok. But Radiohead can do it.

"Kid A", beat-nya lebih mirip drum asli, dan di lagu ini lebih hilang lagi pikiran saya. Saya tidak merasa sesuatu tertentu, tetapi lagu ini macam hipnotis dari sebuah dataran pasca perang dunia ketiga, dan membuat saya merasa seperti robot. Duduk di depan padang kehancuran kota yang sepi, yang penuh dengan teknologi canggih, namun hanya suara-suara program komputer yang ada, berikut kecoak yang mungkin selamat dari serangan nuklir. Benar, saya tidak merasa sesuatu karena, lagu ini menghipnotis saya menjadi robot. Plus, vokal Thom Yorke pun full programming seperti robot, dan yah, apa lagi yang bisa dikatakan. Coba saja resapi, dan mungkin apa yang dilakukan Radiohead sangat susah diterima pada awalnya, meski nanti kamu akan sadar bahwa Radiohead benar. Orang bilang album ini cukup susah bagi pendengar awam, dan kenyatannya album ini tidak sekompleks death metal atau seringan band melayu. Radiohead hanya penuh ide, pikiran, dan mereka gunakan otak mereka untuk memilih musik apa yang cocok dimainkan saat bagian ini, bagian itu, ditambah apa, akhirnya bagaimana, dan jadilah album yang tidak kompleks-kompleks amat. Sangat sederhana. Tidak ada fill-in drum di akhir bar keempat atau kedelapan, atau solo gitar yang kemana-mana.

Sepertinya saya harus menjelaskan aura, atau bagaimana feel album ini. Kabarnya, cukup membuat orang terhipnotis, dibawa menuju dunia setelah nuklir selesai tertawa, di mana manusia langka, dan robot dan klon berjalan di atas bumi. Genre elektronik yang dipilih Radiohead adalah macam Autechre, Aphex Twin, yang permainan elektroniknya berkisar pada pemvisualisasian sebuah suasana, yang kurang lebih gelap, tidak menyenangkan, robotik, dan seputar emosi negatif dalam taraf yang sangat minimalis. Ditambah dengan lirik yang kurang bisa ditafsir bagaimana, dan juga sedikit, seakan-akan memang vokal hanyalah salah satu instrumen penunjang saja. Permainan vokal Thom pun sangat terarah pada penciptaan lagu yang tampaknya, begitu menderita sekali saat ia menyanyikannya. Ada kekacauan, kekosongan, dan ketakutan di bagaimana Thom menyanyi, seperti perasaan tersebut harus segera diutarakan atau dipropagandakan. Namun, kadang ia menyanyi seakan yakin sekali mengenai perasaannya. Sangat cocok dengan aura album yang mengisyaratkan kemungkinan di masa depan. Jadi, fokus utama album ini adalah ritme yang menarik ulur pikiranmu, sesekali memperlihatkan kita dunia robotik post-apokaliptik yang kosong, tapi juga sesekali mengembalikan kita dalam perasaan bagaimana dunia ini sama sekali tidak ada isinya, bahkan perasaanmu.

"The National Anthem" kembali menghantam kita dengan permainan bas yang organik, terus dengan nada yang sama sampai lagu selesai, juga permainan drum yang hanya memainkan pola yang sama. Kalau tidak di hi-hat ya, di ride cymbal. Bagian elektroniknya di sini muncul pada setiap detik dan kemudian menghilang, lalu Thom Yorke menyanyi,

Everyone,
Everyone around here
Everyone is so near
What's going on?

Sangat asing. Saya bahkan tidak ingin tahu apa maksud dari kalimat itu, seakan mencoba memaksa kita untuk terus merasa seperti di lirik itu saat mendengarkan, tidak tahu apa-apa, tidak ada apa apa di sekitar kita, tetapi semuanya ada di sekitar kita. Ini antara ketakutan dan kekosongan. Lagu ini lalu lanjut diisikan instrumen brass, yang tampaknya memiliki dua atau tiga bagian grup untuk memainkan musik yang berbeda-beda. Hasilnya? Lagu ini sangat chaos, tetapi tetap sederhana. Nah, perpindahan mood yang sangat licin ini sangat jenius. Dari suasana iklim yang dingin menuju kepala yang migrain, atau komputer yang terus menerus mengalami error.

Untunglah, masih ada vokal Thom Yorke yang tanpa programming, gitar akustik maupun listrik, membuat album ini masih 'manusia'. Biola di lagu "How to Disappear Completely" membuat lagu ini lebih depresif, dengan bagian yang sesekali mengernyitkan dahi karena begitu seram, juga Thom Yorke menyanyi seperti biasanya, verse-chorus-verse-chorus. Di mana lagu lain membuatmu kosong, lagu inilah yang mengembalikanmu dari kekosongan sebentar untuk sedikit introspeksi. Masih mau lanjut dengar album ini?


Kid A lanjut dengan "Optimistic" yang agak anthemic dengan ritme gitar listrik dan drum asli, dan "In Limbo" yang meneruskannya pada bagian yang membingungkan, dan menyesatkan. Benar, jika hanya mendengar sambil lalu, sangat sulit untuk menerka sedang di bagian mana lagu berjalan, apakah intro, tengah-tengah, ataupun akhir di semua lagu. Instrumen yang sederhana membuat kita mudah tersesat, dan putus di tengah, tetapi ini bukan kelemahan album ini, justru sangat menarik, karena kita jadi ingin mengetahui bagaimana di bagian selanjutnya Radiohead menarik kita kembali. Dan di "In Limbo" petikan gitar dan vokal Thom-lah yang membuat orang hilang arah, begitu mengaburkan pikiran.

Yah, tidak melulu dalam suasana yang mencekam karena tempo lambat dan sedang, karena di "Idioteque", Radiohead memainkan beat yang lebih house dan upbeat, namun tetap pada melodi yang suram. Yang luar biasa adalah di menit ke 01:52, saat hanya ada beat drum dan perkusi elektronik, dan Thom menyanyi di atasnya, lagu ini terdengar begitu desperate, tapi sempurna untuk tripping. Kalau anda mau geleng-geleng kepala, di momen inilah anda bisa. Sungguh aneh, padahal bagian melodi dan ritme yang mengikuti begitu suram tetapi beat-nya, mampu berkata lain soal kemampuan Radiohead dalam mengolah lagu elektronik. Orisinil dan catchy.

Time signature "Morning Bell" 10/8, dan di banyak lagu Radiohead sering kali memasukkan time signature yang aneh, dan hal ini juga berkontribusi untuk menyesatkan arah pendengar, juga membuat lagu yang sederhana menjadi cukup 'intelek'. Struktur yang tidak biasa seperti inilah yang menjadi kekuatan Radiohead dalam orisinalitasnya, juga apabila anda mendengar lagu "Motion Picture Soundtrack", yang tampak kurang beat konkrit, sangat sulit menerka bagaimana strukturnya karena time signature-nya tidak jelas, atau bahkan fondasinya bukan pada beat, melainkan pada vokal. Ini kan sedikit nyeleneh dari teori musik, tetapi seandainya jadi lagu juga, tidak masalah.

Ada sedikit paradoks di review saya? Benar, saya katakan instrumen-instrumen mereka bermain dengan tidak terlalu kompleks, namun jika anda hanyut, sangat sulit untuk menebak arah anda kembali. Bukan maksud juga untuk mengatakan bahwa album ini bertujuan untuk menyesatkan pendengar dalam kekosongan dan ketakutan, namun lebih kepada introspeksi di mana saat kita tersesat itulah, kita harus melihat kembali pada diri kita, di mana arah yang disebutkan itu. Musiknya mungkin membuat kehilangan arah, tapi justru karena itu kita tahu kita kehilangan arah, dan kita bisa melihat dengan jelas harus bagaimana. Ini bukan musik yang tidak bisa dinikmati, bahkan sangat jelas apa yang ingin diutarakannya. Dalam artian dan cara tertentu, Kid A sungguh memikat, dan sama sekali tidak menjauhkan Radiohead dari band yang populer. Album ini tidak sulit untuk didengar, pastikan saja punya waktu untuk mencermati feel-nya sampai tuntas.

Terakhir, saya katakan album ini punya pengaruh yang besar untuk hidup saya. Jika anda lebih ingin terhanyut, setel ini di malam hari, saat anda sakit, saat anda tidak punya siapa-siapa, dan album ini siap sekali menyertai anda. Bukan berarti orang yang periang tidak akan bisa menikmati album ini. Album ini harus didengar karena, kapan lagi anda akan merasakan suasana sehabis serangan nuklir, dingin, kosong, dan kacaunya dunia yang hanya tinggal puing-puing. Umur manusia cuma sebentar saya ingatkan, jika anda berencana untuk dapat hidup menyaksikan perang dunia ketiga dan setelahnya. Sampai kapan lagi juga anda terus mendengarkan musik mainstream yang membosankan dan menipu dengan konsumerismenya? Dengarkan Kid A, biarkan yang alami ada, tanpa hasrat hedonistik.

my track pick:
Everything In Its Right Place
Kid A
The National Anthem
How to Disappear Completely
Idioteque

RATING= 5/5

Review Musik

Converge - Jane Doe (2001)



tracklist

1. "Concubine" 1:19
2. "Fault and Fracture" 3:05
3. "Distance and Meaning" 4:18
4. "Hell to Pay" 4:32
5. "Homewrecker" 3:51
6. "The Broken Vow" 2:13
7. "Bitter and Then Some" 1:28
8. "Heaven in Her Arms" 4:01
9. "Phoenix in Flight" 3:49
10. "Phoenix in Flames" 0:42
11. "Thaw" 4:30
12. "Jane Doe" 11:34


Gn, ane mau share dan review aja band satu ini, apa ada yang pernah dengar? Dan maafkan review saya jika terlalu panjang, karena sebagai pengulas meski amatir, harus dengan jelas mengulas apa poin penting, pro dan cons dari album tertentu. Sayang, review-review musik di post sebelumnya masih kurang menjelaskan poin penting, seperti apa relevansinya dengan hidup kita, mengapa kita harus mendengar album ini, dan mengaitkannya dengan situasi permusikan saat ini. Oh ya, saya pakai skala 1-5, 1 terendah, 5 tertinggi.

Converge adalah band asal Amerika, dan sudah aktif sejak tahun 1990-an. Band ini sekarang terdiri dari empat orang, Jacob Bannon sebagai vokalis, Kurt Ballou di gitar, Nate Newton memegang gitar bas, dan Ben Koller si penggebuk drum. Sampai sekarang telah mengeluarkan tujuh album dan termasuk band yang bisa anda bilang memiliki kharisma dan energi bagi pribadi anda masing-masing..
Nah, saya akan mencoba untuk me-review album ini secara personal dan objektif. Pertama, Converge pada awalnya sama sekali tidak saya sukai. Pertama kali saya dengar ketika saya kelas tiga SMA (sekarang kuliah tahun kedua), dan saya akui, saya benar-benar tidak bisa menerima musik macam ini. Belum bisa, lebih tepatnya. Saat itu saya mengalami depresi kebanyakan anak muda, dan mencari pelarian lewat musik-musik yang keras, aneh, dan baru. Saya penggemar laruku pada saat itu, dan saya mulai beralih dan enjoy mendengarkan metalcore yang lumayan modern, macam Killswitch Engage, As I Lay Dying, God Forbid, Unearth, Darkest Hour, tidak habisnya jika disebut. Saya lalu mengenal jenis metalcore yang lebih gahar, sangar, atau orang bilang deathcore, seperti Bring Me The Horizon, Asking Alexandria, Attack Attack, atau sekarang bisa anda cari di google Design The Skyline. Saya merasa band-band ini terlalu gahar, skill mereka apik, dieksekusi dengan presisi yang tepat, persis mesin, riff gitar yang cepat, dan double-beat drum yang mampu menghancurkan gendang telinga orang saat live. Di saat yang bersamaan, saya juga merasa iri jika laruku dibandingkan kekerenannya dengan BMTH, AA, atau apalah. Saya menjadi sensitif dengan musik deathcore yang naik pamor. Saya iri dengan musik-musik yang menjadi populer.

Sekarang, karena umur dan sudah banyak mendengar banyak jenis musik, saya menjadi lebih mengerti Converge. Adalah salah jika penggemar musik keras tidak menyukai Converge, atau bahkan tidak tahu. Dengan influens hardcore punk dan metal yang digabung menjadi satu, Converge menciptakan sebuah masterpiece untuk metalcore, Jane Doe. Saya mencoba membandingkan metalcore yang saya sebutkan di atas dengan album ini. Killswitch Engage tentu berinovasi dengan riff melodic death metal dan chorus-nya yang melodik. God Forbid punya penekanan lebih pada melodi gitarnya. Unearth dengan dual riff gitar ala Iron Maiden. Converge? "Homewrecker" punya tempo cepat ala hardcore punk, dan band-band di atas memilikinya. Tapi, band di atas tidak memiliki lagu seperti "Concubine", yang time signature-nya berubah-ubah, blast-beat cepat menyaingi grindcore, riff gitar yang chaos, dan teriakan Jacob yang sangat tidak bisa dicerna. Di sinilah pesona Converge, mereka tidak menekankan aspek melodi agar lebih diterima mainstream, atau lebih gahar berat agar dibilang brutal oleh anak anak gaul. Mereka mendorong teknik mereka menuju daerah yang belum diketahui oleh orang lain. Mereka bermain tidak dalam batasan, tapi eksplorasi kekacauan itu sekaligus terkontrol. Sebuah permainan teknik yang tidak dibuang sia-sia pada track pertama yang hanya berdurasi satu menit 19 detik. Tentu, ini bukan satu-satunya kelebihan Converge dalam mengefektifkan teknik pada lagu. Bahkan "Homewrecker" punya chorus yang lebih sederhana, lebih punk, tapi lebih asyik untuk berheadbang ria dibandingkan mathcore manapun.

Untuk feel keseluruhan, saya merasa diasingkan oleh Converge. Mereka tidak melumat atau membabatmu dengan rentetan double-beat drum dan riff death metal ala deathcore, tapi mereka akan melemparmu ke dunia yang tidak ada siapa-siapa yang kau kenal. "Fault and Fractures", yang diiringi fill-in drum Ben Koller yang fresh setiap detiknya dan mengakhirinya dengan jerit gitar yang pekik, berhasil dalam tujuan itu. Sesuai judul album, ini adalah anonimitas. Orisinil? Tentu. Sangat asing. "Hell to Pay", yang dimulai dengan petikan gitar yang misterius, membuka lagu menuju tempo yang sedang, dan Jacob yang kali ini seperti orang mabuk bernyanyi, tidak berteriak. Dari segi variasi, lagu yang bertempo sedang-lambat ini juga sama aliennya dengan lagu yang bertempo lebih cepat. Di "The Broken Vow" dan beberapa lagu, sering juga terdengar bagian lagu yang seperti anthem. You'll never know what you'll hear next. Yang jelas, meski memiliki tempo yang berbeda-beda, feel album ini tetap satu, fokus, dan konsisten.

Dari tempo yang berbeda-beda, sudah jelas jika song structure dari tiap lagu berbeda. Apalagi di dalam satu lagu. "Heaven in Her Arms" contohnya. Lagu ini terdiri dari intro-intro2-intro-verse-interlude-intro-verse-chorus-ekstensi chorus-chorus-ekstensi chorus, sebelum akhirnya masuk pada bagian yang mirip breakdown, tetapi sebenarnya adalah bridge menuju bagian lagu dengan tempo yang lebih lambat. Kau tidak akan menyangka bahwa ini dalam satu lagu yang sama. Bahkan dari awal, jika hanya mendengarkan saja, mustahil untuk menghafal song structure lagu Converge. Asyik, namun, tidak murahan. Berhenti mencoba untuk menghafal bagian lagu ini seperti mesin, dengarkan saja perpindahan antar bagian lagu yang sangat alami ini. Dan ini baru satu lagu, bisa kau bayangkan jeniusnya Converge. Tidak ada lagu filler. Awal sampai akhir adalah satu kesatuan yang benar-benar padat.

"Jane Doe" sendiri, adalah lagu penutup. Temponya lambat, gitarnya 'gelap' dan dominan sampai dua kali bagian awal lagu diulang ke menit ketujuh. Di menit seterusnya, Converge sedikit mereda dan mengeksplorasi tema yang mereka usung, dan terus perlahan menaikkan emosi mereka di menit sembilan. Terus naik mencapai klimaks sampai lagu ini selesai. Di lagu ini, saya sendiri merasa pada puncak keterasingan saya. Saya tidak punya pilihan selain mendengarkan album ini sampai akhir, meski saya belum begitu hafal, tapi saya mampu mengikuti tema ini. Kalau anda menonton film, anda pasti tentu tertarik karena juga oleh suatu hal dalam film tersebut dan anda tidak mungkin tahu bagaimana film itu berakhir. Sama halnya dengan album ini. Mau tidak mau, harus dirasakan pribadi, karena hanya secara pribadilah musik Converge ini begitu mengena. Tidak ada lagi kepura-puraan dalam hidup. Pesta pora dengan musik techno, dance-pop. Sedih karena ditinggal kekasih. Dangkal dalam menangani konsep yang sesungguhnya. Tidak. Jane Doebegitu dekat dengan kita, karena jauh di lubuk hati kita, kita selalu merasa asing dengan sekitar kita. Siapa yang tahu kita ini diterima atau tidak di masyarakat? Apakah keluarga, pacar, atau sahabat benar-benar mengerti kita? Apakah yang membuatmu yakin kau punya teman di dunia ini? Tidak ada. Converge, menyentuh tema yang kita semua sebenarnya paham. Bahwa tidak ada yang sebenarnya benar-benar memahami kita. Mereka memahami hanya untuk dipahami. Tidak ada yang tulus. Di dunia macam ini, nantinya kau pasti akan ditinggal sendiri. Lalu kau tidak akan percaya, dan terheran-heran apakah ini dunia yang kau kenal. Di sinilah, keasingan itu ada. Sangat epik.




Dan saya pun akhirnya menjadikan ini salah satu album terbaik di hidup saya. Tidak pernah bosan berapa kali kau dengarkan. Tidak pernah bisa ditebak Converge akan melakukan apa berikutnya. Jauh sekali jika ingin membandingkan dengan, sebut saja band metalcore atau deathcore yang kau ketahui. Jelas ada di level yang berbeda. Tandingan Converge tentu hanya mereka yang memainkan perasaan dalam musik mereka, baik itu di genre pop, punk, techno, metal, dan sebagainya. Dan lagi, lirik mereka tidak garing dengan tema yang biasa-biasa saja. Metalcore yang benar, contoh Converge.

Akhir kata, jika kau ingin merusak gendang telingamu, pastikan dengan album ini. Jangan dengan album deathcore, metalcore, ecek-ecek yang lain. Saya yakin album ini tidak hanya untuk mereka yang suka musik keras, saya pun tergolong penyuka musik yang lembut..Kenapa anda tidak? Yang anda butuhkan adalah sukma anda untuk merasa, dan menikmati album ini.

my track pick:
Concubine
Fault and Fractures
Homewrecker
The Broken Vow
Bitter and then Some
Heaven in Her Arms

RATING= 5/5

Sabtu, September 03, 2011

belajar haiku

sehabis membeli buku "DANAU ANGSA: ANTOLOGI 500 HAIKU KOMUNITAS DANAU ANGSA", saya jadi tertarik untuk ikut membuat haiku. Saya baca, dan banyak karya yang menarik. Dari bertemakan alam, politik, sampai yang personal. Inilah hasil belajar singkat saya dalam haiku:

Kamar Kakakku


caya menghitam

tebal, manusia bedah

dikurung senja


Noda Merah di Badan


bertanah bercak

ganggu, kan kuperkosa

menunggu reda


Lagu A Cry For Love Oleh The Black Heart Procession


alunan biru

tulang disayat bungkam

oh! merdu perih


Menahan Pipis


isikan daging

tetes ditahan akal

dingin dan pasti


Beli Buku Baru


pasangan buku

dihaus nafsu gebu

waktu sedikit


Belajar Haiku


kursi dibasah

gali agama baru

enam kudapat