Februari 7, 2012
Suatu hari, seseorang dengan cambuk datang kepadaku. Sado, ya, hobinya menertawakan orang. Apalagi tidak lagi bernyawa. Tidak perlu adimanusia untuk bisa mengira- tidak, pikiranku datang darinya, ia berikan sensasi dan imaji horor itu lewat udara, cahaya, dan suara. Yang mati, kurasa dilecut sampai sel darah putihnya memerah-atau menghitam- darah berdarah. Yang masih beruntung, tak kurang besar bengkaknya.
Kali ini ia panaskan tubuhku, dengan endapan setiap yang kusebut bajingan- preman, koruptor, munafik, konspirator, sampah, parasit- yang pernah mencabut nyawa banyak orang di belahan dunia manapun. Ia tarik ujung rambutku, satu per satu, ia dekatkan dengan agen gerah-gigil- si bajingan- yang begitu asam sampai batu ginjalku melapuk.
Sulit ditebak bagaimana ia akan menelantarkan kita masuk ke dunianya, sebuah bilik cinta yang berisi ranjang. "Silahkan berbaring", katanya, sambil menyiapkan cambuk berduri, pelat besi bergerigi, dan cakar metal tujuh rupa. Waktu terasa begitu lambat saat rusuk-rusuk nyeri ditempa, kulit-kulit digesek lepuh, dan mata yang terus-terusan dijebak melek.
Mati rasanya seperti mendapatkan hati gadis impianmu di masa SMA. Siapa yang tahan dengan cobaan ini, dan Buddha bisa menahan berkali-kali lipat yang seperti ini? Tidak bisa kubayangkan, ingin sekali kuhancurkan dinding merah pembiak kesengsaraan ini.
Layak preman, orang kampung tidak bermoral, ia main pukul. Jika kita menurut, niscaya ia ringankan, mungkin ia ganti alatnya dengan jarum jahit. Kalau berontak, masih dengan jarum jahit, tapi ia tidak akan tusuk lepas saja. Ia akan menyatukanmu dengan ranjang. Lalu ia tidur di atasmu, tertawa riang seperti Amerika saat mereka menghadiahkan orang-orang sipit bom nuklir dan hujan peluru mortir. Si pemberi hadiah menghadiahkan diri mereka sendiri dengan menghadiahkan orang lain hutang, tapi sebenarnya ia ambil kembali hadiahnya, hutangnya tetap. Ia katakan juga, "Tunduk!" Pawang, ya kau?
Dalam keadaan kepala dikompres helm yang semakin menyusut, sakit berhari-hari atau jenuh menyadarkanku akan keberadaan lain. Ia kusebut pawang idola, sementara karena ia adalah idola bagi massa mainstream. Tidak jarang juga sih, aku datang kepadanya untuk melihat atraksinya.
Terbiasa menjadi bintang, diam-diam ia berkeliaran, tanpa sepengetahuan orang ia tunjukkan kepiawaiannya. Pawang cerdas yang tahu bagaimana caranya menyenangkan orang. Sayangnya kali ini ia hilang, atau aku tidak bisa mencarinya, atau aku mencarinya tapi tidak kunjung bertemu.
Aku, yang masih menjadi hewan sirkus dan melompat saat diperintah, tidak menemukannya di saat aku membutuhkannya. Aku ingin diperintah olehnya, diambil alih dari pawang jahanam!
Dengannya aku melompat jauh ke masa depan, di mana rasa sakit tidak sah, tidak saat aku melompat, karena aku sedang melompat, bukan sedang sakit. Untuk saat seperti inilah, manusia tidak lagi merasakan masa sekarang seperti biasanya, karena masa lalu sudah berlalu dan masa depan adalah ruang kedatangan dari lorong yang orang tidak tahu apa, sebuah nihil waktu, meski pada dasarnya waktu tidak pernah benar kita pegang.
Raib, pawang idola ini, dan bagiku yang sudah direkat, dipotong, dan dijahit akan mengalami rasa sakit yang lebih sakit dari sakit. Tidak menemukan pawang idola membuatku terus saja kembali pada sadistis pawang bajingan. Sakit, mencari, tidak ada, dan kembali sakit, terus seperti itu.
Seperti masuk jurang, tapi tanpa ujung. Pada awalnya, aku merasa takut mati karena akan jatuh dan otakku segera berceceran menghirup udara segar untuk sekian lamanya. Namun, menyadari ujung dari jurang adalah titik awal dari jatuh bebas kembali, untuk kemudian takut lagi, bersamaan itu ada perasaan tidak biasa yang sering kulihat saat berjalan di trotoar dan jembatan Jakarta.
Kita interpretasi putus asa. Tapi sebenarnya nihil, hampa, sebuah pintu setelahnya tanpa jalan keluar. Mau kemana jika bertemu itu, sampai ke situ? Setelah itu adalah itu, tidak bisa ke mana-mana lagi, dan itu pun bukan apa-apa. Bukan sesuatu. Itu bukan sesuatu.
Karena itulah aku sekarang belajar menghindari dan membiarkan secara alami keduanya, si bajingan dan idola. Tidak usah dicari atau berhenti saja mencari, kalau memang tidak ada. Spontan berontak saja saat bajingan menumbuhkan nanah padamu, dan menurut jinak kalau butuh nafas sejenak. Lama kelamaan, hidup ini bagiku tak lagi duniawi, tapi juga tak lagi seperti biasanya. Terlalu turut pada idola pun akan melenakanmu, lemah seperti kukang, dan tunduk saja hanya akan menjadi kerbau.
Rasa sakit dan itu yang merupakan bukan sesuatu, tidak akan lagi kurasakan jika kedua pawang kujadikan atraksi sampingan, pemain cadangan, figuran. Aku, manusia, adalah tokoh utama yang sanggup menanggung beban seperti unta, namun berwujud singa liar, dan berhati seperti anak kecil.



